Duduk di Kursi Prioritas (?)

 

Selamat pagi, rekan commuters. Eh, rekan transjakartaers juga. Sudah mandi belum? Ada rencana untuk bepergian dengan kendaraan umum hari ini? Simak tips berikut ini. Maksudnya, baca dulu isi blog ini walaupun tidak mempengaruhi perjalanan Anda sedikit pun.

Saya adalah salah satu dari ribuan bahkan bisa dibilang jutaan (?) pengguna transportasi publik di Jakarta. Saya sangat menyukai semua bentuk transportasi umum di sini. Kenapa? Karena teratur. Karena sesuai dengan yang seharusnya. Jangan dibandingkan sama luar negeri tapi, ya. Setidaknya transportasi publik yang dikelola pemerintah ataupun BUMN ini menang kemana-mana dibandingkan dengan transportasi lainnya. Terutama soal tarif. Dan paling penting (ini karena saya naik sebut saja Uber, nanti saya bahas di postingan berikutnya) mereka punya rute yang tidak akan bikin kita nyasar. Sekian.

Nah, sesuai judul postingan saya. Duduk di kursi prioritas. Pertanyaan atau pernyataan? Harusnya pernyataan. Di komuter ataupun bis transjakarta, ada beberapa kursi yang disediakan untuk orang tertentu saja. Maksudnya adalah orang dengan kategori khusus. Coba perhatiin lagi, sebelah mana kursinya? Belum pernah naik? Yuk, ke Jakarta. Eh. Haha. Untuk Prioritas ini sebenarnya di mana di belakang setiap kursinya ada posternya. Jadi bukan semua kursi itu prioritas, tapi jangan egois juga kalau lagi duduk liat mereka yang prioritas berdiri dan kursinya sudah penuh, langsung kasih saja. Ga akan mati kok karena berdiri. Saya dulu sering berdiri di APTB sampai tiga jam. Sampai rumah masih sehat, tuh.

Apa saja kategori prioritas tersebut? Kategorinya sering dibacakan oleh petugas lewat pengeras suara (kalau di komuter), yaitu mereka yang lanjut usia, ibu hamil, penyandang disabilitas dan ibu yang membawa balita. Cukup empat itu saja, lainnya bukan. Jadi, kalau Anda sehat wal afiat coba cek itu di belakang kursi ada posternya, nggak? Kalau ada, sebaiknya duduk di kursi yang untuk umum saja. Kecuali tidak ada yang berdiri dan kereta kosong. Ya bolehlah. Tapi suami saya konsisten ogah duduk di sini. Huft.

Namun, seperti yang saya ceritakan tadi. Tidak semua mereka yang harusnya mendapatkan prioritas mendapatkan kursinya, karena jumlahnya terbatas. Jadi kursi untuk umum juga harus bersedia diprioritaskan untuk mereka.

Ngomong-ngomong soal kursi prioritas penuh, saya jadi ingat kejadian beberapa hari yang lalu. Ada seorang perempuan, sebut saja mbak-mbak, yang lagi berisik sekali menelfon dan duduk di sebelah kiri saya. Saya yakin sih sedang berbicara sama pacarnya. Duh, malah nggosip. Nah, di depan saya berdiri beberapa orang ibu-ibu dan saya yakin mereka masih sangat muda dan tidak butuh duduk. Benar saja, si mbak tadi sok baik pada salah seorang ibu dan dengan nada nyebelin nyuruh saya geser-geser. FYI, kursi transjakarta itu pisah antara satu dan lainnya, jadi setiap kursi cuma cukup untuk satu orang. Saya dengan kesal bergeser sedikit ke kanan, niat dia baik, dia ingin membagi tiga kursi tadi. Jadi salah seorang ibu di depan saya bisa duduk, “Bu, ayo duduk aja. Duh, saya gak enak loh ibu berdiri saya duduk. Saya kalau ga lagi ga kuat berdiri saya berdiri kok, ibu duduk saja”. Si ibu tersebut menolak, berkali kali. Saya kesel sama mbak tadi. Akhirnya teman si ibu yang badannya lebih besar bilang “yaudah, sini saya saja yang duduk”. Si mbak-mbak tadi langsung kembali ke posisi semula “gak lah, saya mau ibunya, mbak kan gak hamil”. Mendengar itu, barulah si ibu tadi paham kenapa dia disuruh duduk “saya gak hamil, mbak. Saya abis makan nasi goreng”. Si mbak-mbak tadi mesem-mesem dan minta maaf, kemudian dilanjutkan dengan pembicaraannya dengan pacarnya tadi “duh, tadi aku kira ibunya hamil, aku juga masih punya jiwa sosial jadi nawarin, taunya ibunya gak hamil…” dan gue males ngelanjutin apa kata si mbak-mbak tadi.

Ternyata tidak semua orang juga ingin duduk, karena mereka tau mereka masih sanggup berdiri. Mungkin saja karena merasa tidak enak kepada yang sudah naik duluan, atau jarak tempuh mereka sudah dekat. Maka, sebaiknya memang harus hati-hati ketika menawarkan duduk kepada orang lain, pastikan mereka memang butuh dan jangan memaksa karena mereka bisa jadi tersinggung, kan? Yang penting sadari dulu, apa kita bagian kursi prioritas atau tidak, dan jika memang lebih sanggup berdiri lama jangan duduk daripada sok-sok an nawarin kursi yang bikin orang kzl kzl kzl.

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Duduk di Kursi Prioritas (?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s