Pelajaran Berharga dari Hacksaw Ridge

Selamat pagi, selamat hari Senin. Ini bukan teaser ataupun spoiler. Hanya sebongkah kata yang sayang disimpan sendiri. Kisah nyata dari Perang Dunia ke-II. 

Awalnya saya dan suami tidak ada niat sedikitpun untuk nonton ke bioskop kemarin, apalagi sudah hari Minggu dan semua jadwal film hanya tersisa jam 9 malam ke atas. Tapi karena kami memang suka nonton, suami bilang “Hacksaw Rigde bagus, nonton yuk”. Dan kami bela-belain nonton dengan pilihan bioskop terdekat dengan jam tayang malam tercepat (dibanding lainnya) yakni pukul 21.15. Dan satu lagi (bukan promosi) ternyata di Bekasi Square XXI (sekarang namanya Revo) tiketnya super murah, Senin-Kamis 20.000 IDR, Jum’at 25.000 IDR, dan Sabtu/Minggu/Libur 30.000 IDR. Mungkin karena mallnya sepi, recommended buat yang tidak terlalu suka keramaian. 

Okay, back to the story. Hacksaw Rigde ini merupakan penggalan sejarah dari Perang Dunia II dilihat dari kacamata Amerika Serikat. Dalam film ini, tentara Amerika harus berperang menghadapi tentara Jepang (untuk lebih jelas silakan baca kembali sejarah). Pemeran utamanya bernama Dosmund Doss. Doss adalah seorang anak prajurit perang yang ayahnya masih selamat dari medan perang, tapi semua temannya tewas. Peristiwa perang terlihat memberi dampak psikologis pada ayahnya sehingga sering berbuat kasar pada ibunya. Doss sangat benci dengan sikap ayahnya, bahkan dalam satu adegan Doss mengatakan ingin sekali membunuh ayahnya. Namun, dia tidak melakukannya, tapi menganggap sudah membunuh ayahnya dalam hatinya.

Suatu hari, Doss bertemu dengan seorang perawat dan Doss jatuh hati padanya. Dia sangat ingin menikahi perawat tersebut, namanya Dorothy. Dorothy mengajarkan Doss banyak hal termasuk meminjamkannya beberapa buku medis untuk dia pelajari. Sampai pada suatu ketika Doss memutuskan untuk mendaftarkan diri menjadi tenaga medis di medan perang. Sebelumnya, saudara laki-laki Doss satu-satunya juga sudah mendaftarkan diri yang membuat semua keluarganya terpukul karena mereka tidak ingin ada kehilangan orang yang mereka sayang lagi. 

Well, akhirnya Doss mendaftarkan diri. Tapi dengan kegigihan dan kepercayaannya kepada Tuhannya, dia berjanji tidak akan menyentuh senjata sama sekali. Semua prajurit lain membullynya terus-terusan. Bahkan Sersan, Komandan perang lainnya menanyakan berkali-kali dan memerintahkan dia agar mau berlatih menggunakan senjata. Dia tetap menolak. Satu hal, Doss selalu membawa Kitab Injilnya yang diberikan oleh sang istri (sebelum dia berangkat menjadi medis masih calon istri) untuk selalu dibaca. Doss yakin, jika prajurit membela negaranya dengan mengorbankan nyawa mereka, Doss membela negara dengan menyelamatkan nyawa siapapun yang terluka di medan perang.

Long story, sampai akhirnya Doss pun diizinkan untuk berangkat ke medan perang tanpa senjata dan hanya berbekal obat-obatan. Begitu banyak serangan yang diterima tentara Amerika hingga banyak dari mereka yang tewas. Hingga malam tiba, pimpinan mereka menyuruh semua prajurit untuk mundur. Dan hanya sedikit yang selamat. Doss tidak ikut kembali dengan mereka, Doss yakin masih ada diantara mayat yang tergeletak di tanah itu masih hidup. Dia memeriksa semua detak jantung dan menemukan beberapa prajurit yang masih hidup. Dengan bantuan Doss, beberapa orang prajurit berhasil terselamatkan dan Doss menurunkan semua prajurit yang selamat dengan tambang yang mereka gunakan untuk memanjat dinding perbatasan untuk melawan tentara Jepang. Bahkan Doss juga sempat menolong dua orang tentara Jepang. Setelah memastikan tidak ada lagi yang bernyawa, Doss pun ikut turun.

Beberapa hari kemudian, Doss diminta kembali ikut ke medan perang. Semua prajurit merasa lebih percaya diri jika ada Doss bersama mereka. Dan benar, Doss menyelamatkan banyak nyawa, prajurit pun dengan gagah berani menghadang tentara Jepang. Jepang kalah dan Hacksaw bisa kembali diambil alih oleh tentara Amerika.

Doss selamat walaupun sempat terluka. Tentara Jepang menyerah dan pimpinan mereka (seperti yang kita tahu harga diri orang sangat tinggi) menikam perutnya sendiri (bunuh diri – harakiri). 

Doss, adalah salah seorang saksi hidup Perang Dunia II. Doss meninggal pada tahun 2003. Jumlah tentara yang dia selamatkan adalah 75 orang. Silakan tonton sendiri aksi penyelamatannya dan kisah menegangkan selama peperangan terjadi. 

See, di sini, seperti yang kita tahu di negeri kita juga, dan di belahan bumi manapun, masih ada yang bertahan untuk tidak mengangkat senjata untuk menyelesaikan masalah. Semua agama mengajarkan hal yang baik dan menghargai nyawa orang lain. Walaupun di sisi lain jika tak ada peperangan tidak akan ada titik temu jawaban. Tapi saya sebagai manusia berharap, dengan tanpa melihat apapun keyakinan kita, Tuhan itu Maha Baik. Oleh sebab itu, Dia menciptakan salah satu makhluknya yang baik untuk menjadi pelajaran bagi kita semua. Doss. 

 

Experience of Being Simultaneous Interpreter 

Mulai dari mana, yak? Begini. Menjadi penerjemah bukan hal yang mudah. Menjadi penerjemah bukan berarti menerjemahkan arti kata per kata dan dianggap hafal semua kata yang ada di kamus “seratus juta kosakata Inggris-Indonesia”. Penerjemah itu mampu menyambungkan komunikasi dua pihak yang tidak saling memahami bahasa satu dan lainnya. Termasuk bahasa kalbu. (harap abaikan yang terakhir)

Pada perannya, penerjemah harus mampu membuat satu pihak paham dengan maksud pihak lainnya terkait dalam hal apa saja yang ingin mereka sampaikan. Penyampaian tersebut bisa lewat tulisan dan juga bisa lisan. Lewat tulisan kita bisa lihat banyaknya buku yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa dari bahasa aslinya sendiri. Ini sangat bermanfaat agar si penulis buku bisa berkomunikasi dan menyampaikan ide serta gagasan mereka kepada si pembaca walaupun mereka memiliki latar belakang bahasa yang berbeda. Begitu juga sebaliknya dengan pembaca. Bukan berarti jika mereka tidak paham dengan suatu bahasa, maka mereka tidak bisa membaca karya penulis yang memiliki bahasa berbeda. Begitulah peran penerjemah.

Sedangkan, untuk penerjemah lisan atau yang biasa disebut dengan Juru Bahasa atau Interpreter, peran mereka lebih kepada hal yang terjadi right on the spot. Maksudnya mereka tidak diberikan waktu yang lama seperti menerjemahkan dokumen, buku atau hal tertulis lainnya. Mereka diminta untuk segera memberitahukan pihak yang membutuhkan informasi yang diberikan pihak lainnya. Untuk Interpreter atau Juru Bahasa ini sendiri terdiri dari dua jenis, yang pertama namanya Consecutive Interpreter (CI) dan Simultaneous Interpreter (SI). Consecutive Interpreter ini adalah penerjemah lisan yang paling umum kita temukan di mana saja, seperti di ruang rapat, sidang,  lokakarya, seminar, dan jenis majelis lainnya. CI ini tugasnya adalah menerjemahkan secara lisan setelah si penutur berhenti menyampaikan maksudnya atau setelah berhenti berbicara, barulah kemudian CI bertugas menerjemahkan apa saja yang telah disampaikan tadi. Bagi saya, CI ini sudah saya jalani sejak tahun 2009. Awalnya takut sekali. Takut salah, takut lupa, serta lainnya. Dan iya benar sekali terjadi. Saya sering salah dan sering lupa. Tapi, itulah yang membuat keinginan belajar dan latihan semakin tinggi. Hingga akhirnya terbiasa dengan profesi ini hingga sekarang.

Kemudian, yang kedua itu adalah Simultaneuous Interpreter alias Juru Bahasa Simultan (SI). Profesi ini bagi saya adalah profesi tersulit yang pernah saya bayangkan. Pernah lihat di teve sidang PBB, Konferensi Internasional, rapal multilateral dan lainnya? Nah, di sana pasti ada banyak peserta yang berasal dari negara berbeda serta bahasa yang berbeda pula. Bisa kita lihat mereka menggunakan alat bantu dengar selama jalannya kegiatan tersebut. Apakah yang mereka dengar? Apakah itu mesin? Itu adalah alat komukasi Juru Bahasa Simultan atau SI. Semua yang dibicarakan oleh si penutur atau pembicara pada kegiatan tersebut akan diterjemahkan secara langsung oleh si SI ke dalam bahasa yang telah diminta. Misalkan, di dalam kegiatan tersebut penutur menggunakan bahasa Inggris dan peserta hanya bisa berbahasa Indonesia, jadi mereka akan mendengarkan percakapan langsung diterjemahkan lewat alat yang mereka pakai. Itu jika hanya ada dua bahasa berbeda. Jika ada bahasa lainnya atau banyak bahasa dalam kesempatan tersebut, maka akan banyak para SI yang ditugaskan mengalihbahasakan sesuai dengan keahlian mereka. Serta peserta dipastikan terhubung dengan alat komunikasi atau earphone yang terhubung dengan juru bahasa yang bersangkutan. Bagaimana cara kerja alat tersebut? Alat tersebut memiliki earphone serta pengatur suara, yang terpenting alat itu memiliki sinyal seperti HT. Nah, si Juru Bahasa menggunakan alat yang menggunakan mikrofon tanpa alat bantu dengar jika bisa mendengar suara penutur dengan jelas, atau jika diberikan tempat atau jauh dari penutur, maka akan dipastikan ruangan tersebut diberi akses seperti speaker atau layar supaya bisa mendengar jelas pembicaraan penutur. Tugas SI adalah menerjemahkan tanpa menunggu si penutur untuk berhenti atau penutur menunggu hingga SI selesai mengalihbahasakan, SI akan tetap berbicara selama si penutur berbicara. Ini adalah hal yang sangat sulit jika belum pernah melakukan sama sekali.

 

wp-image-948152874jpg.jpgwp-image-1261725879jpg.jpgimg_20161031_125004.jpg

Alhamdulillah, beberapa waktu lalu saya diberikan kesempatan untuk menjalaninya. Ternyata memang sulit di satu sesi pertama. Saya ditugaskan untuk menjadi Juru Bahasa Simultan pasangan bahasa Inggris – Indonesia untuk lokakarya terkait dengan perubahan iklim dan efek rumah kaca. Materi yang sangat sulit sekali dan ini juga baru pertama kali. Tapi, insya Allah jika dijalani bisa, kan? Ibarat kata pepatah “There is always First for Everything” begitulah kurang lebih. Bagi teman-teman yang juga ingin tapi belum pernah tidak usah khawatir. Ada beberapa tips versi saya sesuai dengan pengalaman dan ilmu saya yang masih belajar ini.

Tips sebelum menjadi Juru Bahasa Simultan versi AJ:

1. Pastikan beberapa hari sebelum bertugas, kita sudah mendapatkan materi jika itu terkait dengan presentasi atau pemaparan bahan yang sangat panjang. Ini sangat membantu kita untuk memahami dan mempermudah dalam proses pengalihbahasaan nantinya

2. Jika sebelum bertugas tidak ada materi yang diberikan, pastikan kita paham apa topik dari pembicaraan dari si penutur nantinya. Pastikan melihat dan mempelajari kata-kata sulit atau istilah atau terminologi yang kita belum paham dan jangan segan bertanya

3. Jika sudah menguasai materi atau topik tapi masih takut, berbicaralah pada penutur itu. Sampaikan bahwa kita ingin pelafalan dan pengucapan mereka jelas, tenang, dan tidak terburu-buru

4. Kalau masih belum mantap rasanya, coba praktikkan dengan teman atau keluarga dengan menggunakan video yang berbahasa Inggris kemudian artikan secara langsung di depan mereka
Insya Allah, dengan begitu setidaknya kita bisa tenang dalam menjalankan tugas. Intinya ketika mengalihbahasakan tersebut harus tenang, konsentrasi dan menikmati arus pembicaraan. Jangan memikirkan hal lainnya apalagi mengantuk selama menerjemahkan. Ini sangat berbahaya karena akan banyak poin yang hilang.

Alhamdulillah tugas saya selama dua hari tersebut bisa berjalan dengan lancar dan semua senang. Semoga saya diberikan kesempatan lagi nantinya. Jangan lupa, tetaplah belajar apalagi meminta nasehat atau berguru kepada yang sudah berpengalaman. Saya baru pertama kali menjalankannya, mudah-mudahan diberi kesempatan lagi dan bisa lebih baik lagi.

Hal yang saya petik dari sini adalah, walaupun kita tidak mampu dan belum pernah melakukan sesuatu, cobalah terlebih dahulu. Jika belum berani berguru dan belajar dulu, tapi jangan sampai tidak jadi mencoba karena kita akan pernah tahu hasilnya dan kita tidak akan pernah mengerti cara untuk memperbaiki diri kita nantinya.

Always give a try in every new challenge and trust your gut ☺☺ – AJ