Experience of Being Simultaneous Interpreter 

Mulai dari mana, yak? Begini. Menjadi penerjemah bukan hal yang mudah. Menjadi penerjemah bukan berarti menerjemahkan arti kata per kata dan dianggap hafal semua kata yang ada di kamus “seratus juta kosakata Inggris-Indonesia”. Penerjemah itu mampu menyambungkan komunikasi dua pihak yang tidak saling memahami bahasa satu dan lainnya. Termasuk bahasa kalbu. (harap abaikan yang terakhir)

Pada perannya, penerjemah harus mampu membuat satu pihak paham dengan maksud pihak lainnya terkait dalam hal apa saja yang ingin mereka sampaikan. Penyampaian tersebut bisa lewat tulisan dan juga bisa lisan. Lewat tulisan kita bisa lihat banyaknya buku yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa dari bahasa aslinya sendiri. Ini sangat bermanfaat agar si penulis buku bisa berkomunikasi dan menyampaikan ide serta gagasan mereka kepada si pembaca walaupun mereka memiliki latar belakang bahasa yang berbeda. Begitu juga sebaliknya dengan pembaca. Bukan berarti jika mereka tidak paham dengan suatu bahasa, maka mereka tidak bisa membaca karya penulis yang memiliki bahasa berbeda. Begitulah peran penerjemah.

Sedangkan, untuk penerjemah lisan atau yang biasa disebut dengan Juru Bahasa atau Interpreter, peran mereka lebih kepada hal yang terjadi right on the spot. Maksudnya mereka tidak diberikan waktu yang lama seperti menerjemahkan dokumen, buku atau hal tertulis lainnya. Mereka diminta untuk segera memberitahukan pihak yang membutuhkan informasi yang diberikan pihak lainnya. Untuk Interpreter atau Juru Bahasa ini sendiri terdiri dari dua jenis, yang pertama namanya Consecutive Interpreter (CI) dan Simultaneous Interpreter (SI). Consecutive Interpreter ini adalah penerjemah lisan yang paling umum kita temukan di mana saja, seperti di ruang rapat, sidang,  lokakarya, seminar, dan jenis majelis lainnya. CI ini tugasnya adalah menerjemahkan secara lisan setelah si penutur berhenti menyampaikan maksudnya atau setelah berhenti berbicara, barulah kemudian CI bertugas menerjemahkan apa saja yang telah disampaikan tadi. Bagi saya, CI ini sudah saya jalani sejak tahun 2009. Awalnya takut sekali. Takut salah, takut lupa, serta lainnya. Dan iya benar sekali terjadi. Saya sering salah dan sering lupa. Tapi, itulah yang membuat keinginan belajar dan latihan semakin tinggi. Hingga akhirnya terbiasa dengan profesi ini hingga sekarang.

Kemudian, yang kedua itu adalah Simultaneuous Interpreter alias Juru Bahasa Simultan (SI). Profesi ini bagi saya adalah profesi tersulit yang pernah saya bayangkan. Pernah lihat di teve sidang PBB, Konferensi Internasional, rapal multilateral dan lainnya? Nah, di sana pasti ada banyak peserta yang berasal dari negara berbeda serta bahasa yang berbeda pula. Bisa kita lihat mereka menggunakan alat bantu dengar selama jalannya kegiatan tersebut. Apakah yang mereka dengar? Apakah itu mesin? Itu adalah alat komukasi Juru Bahasa Simultan atau SI. Semua yang dibicarakan oleh si penutur atau pembicara pada kegiatan tersebut akan diterjemahkan secara langsung oleh si SI ke dalam bahasa yang telah diminta. Misalkan, di dalam kegiatan tersebut penutur menggunakan bahasa Inggris dan peserta hanya bisa berbahasa Indonesia, jadi mereka akan mendengarkan percakapan langsung diterjemahkan lewat alat yang mereka pakai. Itu jika hanya ada dua bahasa berbeda. Jika ada bahasa lainnya atau banyak bahasa dalam kesempatan tersebut, maka akan banyak para SI yang ditugaskan mengalihbahasakan sesuai dengan keahlian mereka. Serta peserta dipastikan terhubung dengan alat komunikasi atau earphone yang terhubung dengan juru bahasa yang bersangkutan. Bagaimana cara kerja alat tersebut? Alat tersebut memiliki earphone serta pengatur suara, yang terpenting alat itu memiliki sinyal seperti HT. Nah, si Juru Bahasa menggunakan alat yang menggunakan mikrofon tanpa alat bantu dengar jika bisa mendengar suara penutur dengan jelas, atau jika diberikan tempat atau jauh dari penutur, maka akan dipastikan ruangan tersebut diberi akses seperti speaker atau layar supaya bisa mendengar jelas pembicaraan penutur. Tugas SI adalah menerjemahkan tanpa menunggu si penutur untuk berhenti atau penutur menunggu hingga SI selesai mengalihbahasakan, SI akan tetap berbicara selama si penutur berbicara. Ini adalah hal yang sangat sulit jika belum pernah melakukan sama sekali.

 

wp-image-948152874jpg.jpgwp-image-1261725879jpg.jpgimg_20161031_125004.jpg

Alhamdulillah, beberapa waktu lalu saya diberikan kesempatan untuk menjalaninya. Ternyata memang sulit di satu sesi pertama. Saya ditugaskan untuk menjadi Juru Bahasa Simultan pasangan bahasa Inggris – Indonesia untuk lokakarya terkait dengan perubahan iklim dan efek rumah kaca. Materi yang sangat sulit sekali dan ini juga baru pertama kali. Tapi, insya Allah jika dijalani bisa, kan? Ibarat kata pepatah “There is always First for Everything” begitulah kurang lebih. Bagi teman-teman yang juga ingin tapi belum pernah tidak usah khawatir. Ada beberapa tips versi saya sesuai dengan pengalaman dan ilmu saya yang masih belajar ini.

Tips sebelum menjadi Juru Bahasa Simultan versi AJ:

1. Pastikan beberapa hari sebelum bertugas, kita sudah mendapatkan materi jika itu terkait dengan presentasi atau pemaparan bahan yang sangat panjang. Ini sangat membantu kita untuk memahami dan mempermudah dalam proses pengalihbahasaan nantinya

2. Jika sebelum bertugas tidak ada materi yang diberikan, pastikan kita paham apa topik dari pembicaraan dari si penutur nantinya. Pastikan melihat dan mempelajari kata-kata sulit atau istilah atau terminologi yang kita belum paham dan jangan segan bertanya

3. Jika sudah menguasai materi atau topik tapi masih takut, berbicaralah pada penutur itu. Sampaikan bahwa kita ingin pelafalan dan pengucapan mereka jelas, tenang, dan tidak terburu-buru

4. Kalau masih belum mantap rasanya, coba praktikkan dengan teman atau keluarga dengan menggunakan video yang berbahasa Inggris kemudian artikan secara langsung di depan mereka
Insya Allah, dengan begitu setidaknya kita bisa tenang dalam menjalankan tugas. Intinya ketika mengalihbahasakan tersebut harus tenang, konsentrasi dan menikmati arus pembicaraan. Jangan memikirkan hal lainnya apalagi mengantuk selama menerjemahkan. Ini sangat berbahaya karena akan banyak poin yang hilang.

Alhamdulillah tugas saya selama dua hari tersebut bisa berjalan dengan lancar dan semua senang. Semoga saya diberikan kesempatan lagi nantinya. Jangan lupa, tetaplah belajar apalagi meminta nasehat atau berguru kepada yang sudah berpengalaman. Saya baru pertama kali menjalankannya, mudah-mudahan diberi kesempatan lagi dan bisa lebih baik lagi.

Hal yang saya petik dari sini adalah, walaupun kita tidak mampu dan belum pernah melakukan sesuatu, cobalah terlebih dahulu. Jika belum berani berguru dan belajar dulu, tapi jangan sampai tidak jadi mencoba karena kita akan pernah tahu hasilnya dan kita tidak akan pernah mengerti cara untuk memperbaiki diri kita nantinya.

Always give a try in every new challenge and trust your gut ☺☺ – AJ

Advertisements

2 thoughts on “Experience of Being Simultaneous Interpreter 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s