When Bakulan is Inspiring My Life

Judulnya enggak banget yeee. Mehehe. Anw, postingan ini hasil kopian status facebook sendiri. Niatnya mau share lebih banyak, tapi later yaaa. Trus kenapa share di sini? Biar tulisannya nambah *kalem*

Here is my story…

Mumpung klien ijin ga masuk Sabtu & sambil nunggu suami pulang kantor Sabtu, mari nyusun dagangan. Sekalian sharing pengalaman yang masih seuprit. Wkwk

Percaya gak kalo ini semua stok pribadi kami? Kami aja gak percaya. Hehe. Ini bulan ke-9 kami menjalani usaha bakulan snack ini. Bisnis receh, euy. Tapi ada kok artis yang ngejalanin bisnis yang sama. Hahaha. Di mall juga persis sama dengan ini snack dan cemilan yang dikemas ulang & dalam bentuk pembelian kiloan. Terus kenapa masih berani jual barang yang sama?

Awalnya kami jualan karena termotivasi dan terinspirasi oleh teman yang punya toko snack ini. Dari mereka kami memasok barang. Alhamdulillah harganya bisa untuk bersaing dengan bisnis lainnya karena mereka memasok dari produsen tangan pertama (kebanyakan) dan karena mereka mengambil barang super banyak, jadi wajar harganya bisa bersaing. Dagangan kami ini masih belum ada apa-apanya dibandingkan dengan 2 toko mereka yang selalu penuh dengan stok.

Jadi, kenapa kami memilih bisnis ini? Karena 9 dari 10 pintu rejeki adalah dari berniaga. Dan, dengan berniaga, kita belajar seni bertemu pelanggan, produsen, mengatur keuangan, cara packaging, penyimpanan stok dan lainnya. Trus kerjaan lain gimana? Masih jalan. Hehe. Suami masih ngawas proyek & design rumah serta bangunan, sementara saya masih ngajar & menerjemah. Kebanyakan? Enggak. Karena gak tiap hari ada project atau kelas. Masih sempat masak, nyuci pas wikdeiz, kok. Wiken aja kami keluyuran terus 😂😂

Trus apa faedahnya postingan ini? Jadi begini, jika teman-teman takut memulai usaha, hilangkan takutnya baca aja bismillah. Trus kalo rugi gimana? Ya wajarlah, namanya usaha ada untung ada rugi. Kalo untung terus namanya galia. Hehe. Tapi kemungkinan meminimalisir rugi tentu ada. Nah, itulah yang kami pelajari. Dari sekian bulan bakulan ini, sudah banyak sekali barang yang kami tarik & musnahkan. Kenapa? Karena rasanya sudah tidak sesuai dengan lidah pelanggan. Bahkan ada yang belum kami kemas ulang kami musnahkan. Mubajir? Iya. Sangat. Tapi daripada membahayakan konsumen, pilih mana? Jadi, dari situlah pelajarannya. Barang yang seperti itu, biasanya karena terlalu lama kena panas, atau lama mengemas ulang. Menyiasatinya adalah dengan belajar dari kesalahan tersebut, kemas dengan benar, simpan dengan benar & pastikan tidak terlalu lama menumpuk setelah dikemas ulang.

Untuk yang telah kami kemas ulang biasanya bisa tahan 1 bulan atau lebih walaupun kadaluarsa barang tersebut masih lebih 1 tahun. Tapi, maksimal jika sudah lewat 3 minggu kami coba makan kembali, jika tidak enak kami musnahkan lagi. Untungnya sekarang belum 2 minggu setelah dikemas udah lenyap, jika ada yang tidak habis berarti sudah bukan idola pelanggan & kami harus berhenti menyetok ulang.

Alhamdulillah, terima kasih untuk yang pernah belanja online ataupun offline dengan kami. Sekarang cemilannya sudah bisa ditemukan di lapak online mainstream (link rikues, yak. Ketauan amat promo ntar. Wkwk) dan dibeberapa warung & kafe. Hehe. Alhamdulillah. Sebelumnya, bisa dilihat disalah satu gambar ada kacang polong ijo & koro kuning, itu biasanya ukuran bakulan kami, harganya 2ribuan & hanya dijual di kantor suami. Laku? Alhamdulillah, selalu habis. Bisa belasan varian di kantor suami doang, bisa laku tiap hari.

Jadi, manteman, jangan takut & bimbang. Setelah saya pelajari dari pengalaman bakulan kecil-kecilan ini yang terpenting cuma konsisten & punya komitmen. Gak hanya iseng atau takut rugi diawal trus berhenti.

Ibarat kata pepatah “tak peduli seberapa kencang kau melangkah, asal tak pernah berhenti, akan sampai juga.”

Sekian cerpen yang memenuhi beranda facebook ketika menikmati daging kurban hari ini. Jangan ambil hati, ambil pelajarannya & makan cemilannya. Wassalam 😂😂🙏🙏

Advertisements

Bekerja Bukan Sekedar Cari Uang

Jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak dirasai

Lama tak mencoreti blog yang sudah penuh sarang spiderman ini, sudah semakin sulit memulai menulis kembali, padahal banyak yang mau ditulis tapi nanti terus nanti terus.

Yak, mau cerita soal hal yang gak jauh-jauh dari realita manusia yang kemudian dijadikan bahan rumpian seonggok manusia lainnya. Wanita bekerja. Tudia, di mana-mana sibuk membahas itu terus seakan cuma sebiji dua biji wanita yang bekerja di dunia ini, padahal lihat kiri kanan ibu sendiri pun bekerja, dan terbukti anaknya masih keurus juga. Okay, I will not go too far, karena kapasitas saya belum sebaik wanita yang sudah dikaruniai buah hati, jadi saya tidak akan bisa berkomentar dari sisi tersebut. Saya belum ada yang bikin repot di rumah, makanya pertimbangan bekerja tidak seperti teman-teman lainnya 🙂

Jadi, di tengah sibuknya pembahasan wanita sebaiknya di rumah saja dan jangan bekerja ini saya mulai ngaca berkali-kali (kok gak cakep cakep, yak) dan melihat keadaan diri sendiri yang separuh kerja separuh nganggur. Wkwkwk (Don’t blame me, I am Indonesian. Ketawa mesti gini). Kenapa? Yha, karena saya tidak sepenuhnya bekerja kantoran jam 8-5 setiap hari. Jam kerja saya suka-suka, kadang saya kerja kadang enggak. Hanya saja, tanggung jawab saya berkaitan dengan reputasi pribadi karena saya langsung berhubungan dengan klien. Seperti yang saya tulis di bio, saya pengajar, penerjemah dan sekarang merambah ke ibu-ibu nyoba bakulan cemilan. Jadi, tetap saja sama sulitnya jika dibandingkan dengan yang bekerja di kantor dan punya atasan serta aturan lainnya.

Kembali lagi persoalan wanita bekerja tadi, karena baru-baru ini saya mengalami hal yang kurang mengenakkan (agak lebay) yaitu kena alergi parah banget. Iya gatel banget soalnya, heu. Hingga saya berobat ke dokter akupuntur langganan dan dokter umum, kemudian jawaban mereka tidak pasti juga. Satunya bilang harus detox, ga boleh makan nasi, dan satunya suruh ke dokter kulit. Pun sampai kepikiran sendiri apa gue sakit gula? :'((

Usut punya usut, sekarang alhamdulillah ketauan salah satu alerginya karena cuaca yang tak kunjung hujan. Huvt. Terus urusannya sama kerja apa? Jadi, selama saya sakit, saya tetap bertemu klien, karena ya kalau dalam ruangan berAC saya gak begitu gatel. Wkwk lagi. Kebetulan klien saya adalah para dokter dan ahli alat kesehatan rumah sakit. Salah satu tempat saya mengajar adalah disebuah instansi kemenkes di Jekardah, jadi bisa setelah kelas selesai tjurhat sedikit. Dari merekalah saya tahu bagaimana menangani sakit saya dan yang jelas sugesti positif pun datang hingga akhirnya saya cepat sembuh. Dilain tempat, dalam durasi yang sama ketika sakit juga, salah satu klien saya seorang ibu-ibu, sangat khawatir sekali, sampai saya dibelikan kelapa ijo (kelapa khusus obat, asem euy), dibikinin daun sirih dan bentar bentar nanya apa udah sembuh. Terharu.

Pernah juga tahun lalu, saya cuma demam biasa, mungkin karena perubahan cuaca, saya tidak bisa mengajar anak klien saya. Kebetulan, ibunya ahli gizi, jadi waktu saya ijin tidak bisa mengajar saya datang ke rumahnya diantar suami, eh malah sekalian dikasih obat. Dan, katanya gak usah ke rumah sakit, minum ini aja. Plus dikasih permen heks (permen jadul) karena suaminya juga lagi sakit yang sama. Alhamdulillah, besoknya sembuh.

Begitulah. Itu hanya baru sedikit hal tentang saya dan klien yang paham dengan kesehatan. Tapi, apa yang saya rasakan sebenarnya dari hal tersebut? Saya merasakan punya keluarga baru di rantau ini. Saya merasakan punya saudara, punya ibu-ibu baru lainnya, bisa bercerita dan bertukar ilmu. Selain itu, tidak hanya dari segi kesehatan, dengan bekerja kita bisa belajar hal baru, dan terpenting klien baru lagi. Eh. hehehehe… Ya gitu, deh.

Jadi, mau bekerja atau tidaknya perempuan, bagi saya tidak ada yang lebih bagus atau kurang bagus. Keduanya sama. Selagi benar menempatkan diri dan semua seizin suami (jika telah menikah). Karena, kita harus paham, tidak semua wanita yang ke luar rumah setiap hari hanya berpikir tentang jabatan, atau prestise atau bahkan mereka memang butuh tambahan penghasilan untuk anggota keluarga lainnya. Di sisi lain, mungkin mereka juga mengalami hal seperti saya, dengan bekerja mereka jadi punya keluarga lainnya, pertemanan, pengalaman, serta semua hal yang tidak selalu diukur dari materi semata. Karena, bekerja tidak melulu tentang uang saja 🙂

Sekian latihan menulis hari ini, pemirsa. Semoga besok ada bahan lagi. Hahahaaa…

Sapaan Terlambat untuk 2017

Mengawali Jum’at dengan beberapa deadline terjemahan membuat kepala sedikit panas. Tak ada salahnya menyapa sejenak blog yang sudah dua bulan tak disinggahi ini ditambah sedikit motivasi yang menggelitik saat melihat teman-teman lain yang rajin nge-blog sudah menuntaskan beberapa tulisan.

Kadang teringat akan resolusi yang selalu dibuat setiap akhir tahun, namun terealisasinya beberapa tahun kemudian. Well, it’s not that bad tho. Tapi, sejak akhir tahun 2015 saya sudah sama sekali tidak membuat resolusi, bukan menyerah atau tanpa rencana, tapi hanya ingin mengikuti aliran hidup saja tanpa tergesa-gesa. Entah kenapa, semakin bertambahnya usia waktu semakin tak terasa. Semua terasa begitu cepat, tidak seperti ketika SMA “I want to grow up and be free!” dan ketika kuliah “duh, cepetan lulus kenapa, sih?”. Iya seperti itu. Tapi, sekarang malah ingin waktu berjalan dengan sangat lambat (mungkin pengaruh kebanyakan deadline :p).

Sebenarnya tidak memburu sesuatu hal adalah bentuk syukur (sedikit klise dan terdengar ngeles) karena tidak ingin hal muluk-muluk. Iya. Dulu sebelum lulus kuliah pengen segera wisuda, kemudian sebelum menikah ingin cepat-cepat menikah kemudian punya anak. Ternyata tak sesederhana itu. Tapi, alhamdulillah jika harus flashback sejak sebelum lulus kuliah, saya sudah bekerja dari tahun 2007 menjadi guru privat dan mencoba mempelajari bagaimana cara mengajar dan pada tahun yang sama juga sudah mulai menerima jasa terjemahan dari teman-teman nyokap dengan bayaran seadanya, bahkan sebungkus martabak I am just fine. But, time goes by. Too many things happened, mulai dari rencana sekolah yang tak disentuh sama sekali berkasnya walaupun minta nasihat ke siapapun pasti disuruh daftar karena sudah memenuhi hampir 100% kriteria. Tapi, kembali lagi. Waktu terasa sangat cepat. Bahkan ketika baru sempat berpikir waktu hari Senin, tiba-tiba Jum’at sudah tiba. I am not joking. Tapi begitulah.

Makanya, tak sempat menyebut satu resolusipun selain tetap berusaha menjadi orang baik. Tak kurang tak lebih. Jika Allah memberikan kesempatan pasti akan diterima dengan baik, tapi jika belum, untuk mengejar suatu hal yang semakin hari terlihat semakin rumit (seperti beasiswa keluar negeri) mungkin agak perlahan. Tapi terasa ada beberapa perubahan di tengah jalan yang kemudian saya sadari. Saya adalah orang yang tidak bisa dipaksa mengerjakan apapun, karena hasilnya pasti berantakan. Jadi, saya lebih suka mengerjakan apapun dengan senang hati. Jika ada yang melihat saya mencapai ini itu, percayalah, itu semua dengan senang hati saja tanpa paksaan siapapun atau kerja keras berlebihan, itu semua cuma dari Tuhan.

So, what am I doing now? Saya sedang menikmati menjadi teman hidup suami saya pastinya (terutama menunggu weekend dan jatah cuti biar bisa liburan), jualan snacks yang siapa sangka kami awali dengan sungguh-sungguh murni belajar berbisnis ternyata dalam sebulan sudah belasan varian yang kami jual, dan yang terpenting mengurusi perusahaan yang sudah seperti anak sendiri. Karena belum diamanahi bukan berarti kami tak berharap, siapa yang tak ingin punya anak? Semua orang mulai nyinyir, sama seperti bertanya kapan menikah. Well, sibukkanlah diri kalian untuk hal yang lebih penting daripada menyinyiri hidup orang lain. Seperti saya mengurus Vean Integrated yang baru berumur 7 bulan tapi sudah memiliki klien yang bisa dibilang membuat kami sangat bersyukur.

Kembali lagi, kenapa tanpa resolusi? Bukan tanpa target, tapi hanya tetap bersyukur dan memelihara amanahNya. Teman saya pernah bilang:

“Tak ada yang kebetulan di dunia ini, semua sudah direncanakan. Tuhan memberikan kita ketika kita siap, sehingga semua terlihat sangat kebetulan.”

Jadi, kali ini bukan tanpa resolusi tapi dengan kembali bersiap dengan semua kemungkinan yang terjadi, hingga semua akan terlihat kebetulan kembali. Jangan membuat target yang membuat kita stres, karena hanya akan membuat kita ragu akan nikmat Yang Maha Kaya. Kita yang belum siap, bukan Dia yang belum memberi. Apapun itu, gelar, pekerjaan, jodoh, anak dan apapun yang kita inginkan. Kita hanya manusia yang sudah digariskan jalannya masing-masing, jadi tidak perlu berpedoman dengan hidup orang lain. Belajar dari orang lain tentu harus, tapi hasil dan pencapaian tak harus sama. Bisa jadi lebih, loh. Kenapa tidak? Ya, kan? 🙂

Selamat menikmati hari Jum’at yang selalu penuh berkah buat yang sempat mampir. Semoga selalu bahagia. Sampai jumpa lagi di postingan selanjutnya. Saya kembali ke deadline dulu. Dadaaahhh…

Lima Tahun Social Media Sumbar

Selamat hari lahir Social Media Sumatera Barat. Ini hari lahirmu yang ke-5. Tak terasa 5 tahun sudah kami semua kau pertemukan di sini. Bahagia, sedih, senang, susah, takkan pernah menghilangkan rasa yang pernah aku punya untukmu. Iya, hanya untukmu.

Pernah, timbul tanya kenapa aku berusaha memperjuangkanmu tetap ada. Mereka bertanya apa yang kau berikan padaku, mengapa aku rela melewatkan jadwal pekerjaanku, menghabiskan waktuku, menghabiskan uang jajanku. Bukan karena aku menginginkan sesuatu untuk diriku, tapi untuk dirimu. Untuk Social Media Sumbar.

Mengapa aku ingin kau ada?

Karena dulu aku selalu pergi mengikuti di mana ada pergerakan. Diawali dengan aku memulai komunitas bahasa Inggris di Unand, berkenalan dengan Info Sumbar dan Minang Sedunia hingga mereka memberiku akses penuh menjadi admin dengan catatan tidak ada kepentingan lain selain untuk menyatukan pergerakan anak muda.

Pada pertengahan tahun 2011, kami semua yang sempat berkomunikasi lewat jejaring Twitter yang disambungkan oleh @infosumbar berinisiatif untuk bertemu muka. Kopdar pertama kami di Taman Budaya pada saat itu terwujud dan kami berhasil melahirkan @gatheringis yang merupakan kumpulan dari teman-teman berbeda komunitas tapi disatukan oleh akun @infosumbar. Namun, setelah 4 kali kopdar, kami merasa kami hanya berkumpul, kami ingin berbuat lebih. Dan terpenting bersama.

Pada tanggal 16 Desember 2011, saya masih ingat setelah makan siang di KFC A. Yani Padang, siapa yang datang duluan silakan ambil 5 mocca float pertama yang saya beli, teman-teman dari komunitas berbeda pun mulai berdatangan. Awalnya hanya sekitar 20-30 orang, lama-kelamaan hampir mencapai angka 70 orang. Bisa teman-teman lihat di http://socmedsumbar.blogspot.co.id/ yang ditulis oleh @ajaykivatte yang setelah acara tersebut menjadi salah satu admin @SocmedSumbar menuliskan rincian daftar hadir komunitas beserta beberapa perwakilan yang sempat menuliskan daftar hadir dengan nama pribadi.

Dari sana, lahirlah Social Media Sumbar (yang namanya diputuskan oleh perwakilan moderator dan teman-teman yang hadir, saat saya, @ardikidd dan beserta satu teman lainnya saya lupa Ocoy atau Ariz sedang sholat ashar di lantai dasar KFC). Namun, karena semua sudah menyetujuinya, kami pun dengan senang hati menyambut nama ini, walaupun @ardikidd sebelumnya sudah mempersiapkan nama “West Sumatera Youth Community”. Tapi apapun namanya, yang penting semangat kebersamaannya. Social Media Sumbar resmi lahir tanggal 16 Desember 2011 dengan tujuan untuk menjadi FORUM KOMUNIKASI KOMUNITAS SE-SUMATERA BARAT yang murni hanya penyambung komunikasi dengan hanya membutuhkan 1 orang koordinator untuk penyambung komunikasi, sedangkan KEPUTUSAN TERTINGGI ada di RAPAT SEMUA KOMUNITAS YANG BERADA DI NAUNGAN SOCIAL MEDIA SUMBAR. Jadi Social Media Sumbar BUKAN PEMEGANG KEPUTUSAN, HANYA PENYAMBUNG KOMUNIKASI. Baik dari komunitas satu dengan lainnya, komunitas dengan media, dan komunitas dengan pemerintah, serta tak lupa komunitas dengan sponsor. Empat elemen tersebut didekatkan dengan komunitas dengan cara Silaturahmi, Edukasi dan Rekreasi. Inilah cikal bakal Social Media Sumbar yang teman-teman lihat pada hari ini.

Waktu berganti, tidak satu atau dua kegiatan yang kami inisiasi bersama, kembali lagi, tujuannya tak lain dan tak bukan hanya untuk Silaturrahmi, Edukasi dan Rekreasi. Tak ada paksaan untuk mengerjakan ini itu, tapi wajib saling sokong dan bantu ketika ada komunitas yang ingin menggagas sebuah kegiatan, baik berupa moril, materil dan penyebaran informasi. Tak putus-putus inilah yang selalu kami lakukan bersama.

Awal berdiri, kami sudah melakukan Aksi Bersih Pantai di Pantai Padang dan kemudian kami berangkat mengunjungi teman-teman daerah dengan tujuan yang 3 tadi, kami disambut oleh Komunitas Gubuak Kopi. Kami saling belajar, berbagi informasi. Dan kemudian disusul dengan trip-trip lainnya seperti ke Sawahlunto, Painan, Bukittinggi dan Batusangkar. Tak lupa kami juga mengadakan bakti sosial pada bulan Ramadan ke Panti Bina Grahita serta mengadakan 2 kali Social Media Sumbar Festival dan banyak lagi.

Saya tak bisa sebutkan satu persatu semua dalam blog ini. Tapi yang terpenting apa? Saya hanya ingin menulis kembali kenapa Social Media Sumbar itu lahir? Mengapa dia perlu lahir? Karena ada banyak kepala yang berbeda ide, berbeda pendapat yang jika mereka semua disatukan akan membuat perubahan besar. Lihatlah ketika mereka berkumpul, tak ada sedikitpun rasa takut yang saya rasakan. Social Media Sumbar adalah forum komunikasi komunitas semua genre, mulai dari sosial, fans musik, IT, pendidikan, fans sepakbola, olahraga dan semuaaaa yang ada di Sumbar. Bisa dibayangkan mereka jika dikumpulkan semua? Luar biasa yang bisa mereka lakukan. Hal yang membuat saya percaya diri dengan semua pergerakan tanpa takut adalah, ketika ada yang menyerang saya dengan memasukkan unsur politik dalam forum ini, atau mencoba membuat saya mengambil keputusan pribadi, saya kembalikan semua ke seluruh Ketua Komunitas yang ada di Social Media Sumbar, dan tak segan mereka bilang “yang menghadang si Nisa, biar kami yang maju duluan”. Begitulah dulu teman-teman membuat Social Media Sumbar ini kuat, tak ada yang sanggup memecah belah kita.

Saya rasa sekarang teman-teman paham kan mengapa saya sangat sayang pada Social Media Sumbar? Ya, karena mereka keluarga terbesar yang pernah saya punya. Mereka selalu ada walaupun cuma untuk meledek saya ketika putus, menjodoh-jodohkan saya, mensupport saya, mendengarkan semua keluh kesah saya, mereka selalu ada. Bahkan saat saya sudah di rantau ini. Saya tidak bingung sama sekali, kemana saya pergi keluarga besar saya ini tersebar di manapun. Saya rasa diberbagai negara juga mereka ada. Rasa ini yang tak pernah bisa digantikan oleh apapun.

Hari ini, hari lahir ke-5 ini, saya berharap Social Media Sumbar masih terus ada. Walaupun saya hampir sudah tidak ada lagi di dalamnya. Manfaatkanlah keluarga besar ini untuk saling support, teman-teman. Agar teman-teman nantinya juga bisa merasakan hal yang sama seperti saya, bisa punya orangtua di mana saja, ada kakak di sini, adik di sana, padahal kita tidak sedarah. Tapi, kita menyambungkan semangat darah yang sama.

Sekali lagi, selamat bertambah dewasa Social Media Sumbar. Semoga saya masih bisa mengucapkan selamat hingga kesekian kalinya hingga akhir hayat saya.

Terakhir salam sayang kami Nisa dan Vembi yang juga dipertemukan saat kami sibuk berkomunikasi untuk bantuan Banjir Bandang di Padang tahun 2012 lalu. Kami bertemu kembali di Kumpua Basamo anak Rantau tahun 2015 yang membuat kami mulai mengenal bahwa kami mungkin memang ditakdirkan dipertemukan oleh Social Media Sumbar.

gath-homi

Gathering Hommy Caffe

 

bersih-pantai

Bersihin Pantai Yuk, 2012

gathis-4

Gathering IS 4

baksos-bina-grahita

Buka Bersama di Panti Bina Grahita 2012

trip-solok

SocMed Sumbar Trip Solok  

sawahlunto-trip

Sawahlunto Trip 2012

painan-trip

Painan Trip 2012

bukittinggi-trip

Bukittinggi Trip 2012

bukber-2013

Buka Bersama 2013 di Pondok Ikan Bakar Lubeg

bukber-2014

Buka Bersama 2014 di Tiji Cafe

Dan hanya ini galeri yang bisa saya kumpulkan untuk mengingat masa saya ketika pernah bersama kalian. Ada banyak lagi foto lainnya, tapi harus mengubek-ubek beberapa sumber dulu. Maafkan resolusi gambar dan mungkin pose(termasuk saya) yang kurang begitu bagus.

Panjang Umur Selalu @socmedsumbar

Hidupkan Jiwa Raga dengan Berkebun

Berkebun kini bisa jadi lebih mudah dengan menggunakan media sederhana dan bisa didapatkan dengan mudah. Yuk, belajar berkebun bareng kita! 🙂

img_20161214_0930031

Kebun Vean

Mengapa berkebun bisa menghidupkan jiwa dan raga? Ya, berkebun bukan hanya sekedar untuk mencari nafkah atau penghasilan semata. Tapi, berkebun juga bisa memperkuat ikatan kita dengan alam. Alam sudah terlalu banyak dirusak, bahkan sudah sulit untuk menemukan tanah atau lahan untuk ditanami. Tentu saja itu bukan menjadi halangan bagi kita untuk tetap menjaga alam dan bercocok tanam. Konon, teknik menanam dengan media air ini sudah dikembangkan sejak lama, tapi masih banyak yang belum paham teknisnya. Termasuk kami. Jadi kami mulai mempelajarinya.

Berawal dari keinginan untuk punya tanaman sendiri karena kami tinggal di rumah kontrakan milik orangtua suami yang baru saja selesai dibangun. Semua masih serba baru selesai dan kami langsung menempati rumah tersebut. Kebetulan, masih ada tanah kosong yang belum dibangun di depan rumah, tapi karena warga masih minta ijin untuk diberikan akses lalu lalang di tanah tersebut, jadi kami memutuskan untuk bercocok tanam dengan media yang sangat aman. Pertama kali mencoba, kami menggunakan media pot dan tanah, namun setelah beberapa minggu berjalan, tumbuhan yang kami tanam tak kunjung besar. Jadi kami belajar bercocok tanam dengan teknik hidroponik alias menggunakan media air.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, kami sudah menanam tumbuhan di tanah, tapi mungkin daerah dan tanah Jakarta ini memang tidak cocok untuk ditanami sayur jadi kami beralih ke media air. Jenis tanaman tersebut adalah bayam dan pakcoy. Tanaman lain mungkin bisa tumbuh di tanah, tapi akan saya bahas di postingan selanjutnya nanti. (tanah dan pot masih digunakan, saya akan bahas dipostingan selanjutnya karena mencoba mengganti jenis tumbuhan)

Bagaimanakah menaman dengan teknik ini? Caranya mudah. Silakan ikuti langkah berikut;

  1. Kumpulkan botol air mineral bekas ukuran 1,5 liter dan potong dua seperti pada gambar2. Sediakan rockwool yang biasanya bisa ditemukan di toko besi dan baja. Rockwool ini diambil sedikit dan letakkan dipotongan botol bagian atas. Inilah nantinya yang akan menjadi media untuk akar tanaman yang akan kita tanam

    3. Pada gambar no 2, terlihat disebelah kanan sudah ada tanaman yang tumbuh. Nah, itu bayam yang sudah berumur sekitar 2 minggu. Rockwoolnya mana? Rockwool bisa nyemplung ke dalam botol bagian bawah karena dasarnya seperti kapas tebal. Dan seiring dengan tumbuhnya tanaman, warna rockwool pun akan berubah menjadi agak hitam. Jadi jangan bingung hitam itu warna apa, ya? Dan lantas kenapa warna air agak sedikit hijau? Itu sebenarnya selain diberikan air, tanaman juga diberikan nutrisi yang dimasukkan ke dalam air. Jadi, sebelum ditanam dan dimasukkan rockwool, botol bagian bawah diisi dengan air dan nutrisi terlebih dahulu. Jangan kebanyakan, ya. Pokoknya rockwoolnya tersentuh air jadi bisa meresap. Satu lagi, jangan memasukkan terlalu banyak bibit dalam satu pot. 2-4 saja cukup.

    Inilah jenis dari nutrisi yang kami gunakan. Bisa terpisah antara nutrisi A & B, dan ternyata ini baru ketemu ada nutrisi Hydro J yang AB nya dicampur. Tanya aja di tukang jual tanaman pinggir jalan. Ada, kok.

    4. Setelah tanaman ditanam dan diberi nutrisi, jangan lupa untuk menyiramnya dua kali sehari, pagi dan malam. Ini supaya tanaman tidak kehausan. Kalau haus dijamin mati. Karena satu-satunya makanannya hanya air. Dan dalam pemberian air, jangan disiram dengan gayung. Tekanannya terlalu besar. Pakai saja botol mineral yang tutupnya sudah dilobangi dan cipratkan air tersebut ke tumbuhan kita. Dan juga, jangan lupa untuk mengganti airnya setiap 1-2 kali seminggu. Yang dibersihkan hanya botol bagian bawah, ya? Jadi, botol yang ada tanamannya di bagian atas itu diangkat, kemudian yang bagian bawah dibuang airnya, dibersihkan, kemudian isi kembali dengan air yang baru dan berikan nutrisi kembali.

    img_20161204_0811471

    My Dearest Urban Farmer a.k.a My Suami lagi serius ganti air tanaman

 

Nah, hanya 4 langkah tersebut dan dengan penuh kesabaran tunggulah tanaman kita tumbuh besar. “Kenapa sih mesti nanam kalau bikin repot aja? Kan bisa dibeli? Murah lagi.” Seperti yang saya bilang di atas, bercocok tanam ini adalah ikatan dengan alam. Apapun itu, baik bunga, sayur atau tumbuhan lainnya. Intinya, dengan membuat mereka tumbuh, udara semakin segar, kita pun tau kualitas tumbuhan yang kita konsumsi. Dan tahukah kalian perasaan paling bahagia dari berkebun itu? Saat panen.

img_20161208_1103501

Pakcoy siap panen

Pakcoy ini terlalu ramai dalam satu media tanam. Karena masih belajar, kami memasukkan terlalu banyak bibit. Seharusnya 2-4 saja cukup. Nah, bentar lagi bisa disayur, nih. Hmmm… Syegerrrrr…

panen

Panen Malam

Beginilah rasanya ketika panen. Ini sekitar dua minggu lalu. Minggu depan kami akan panen yang ke-2. Dan, gak berhenti di sini aja, kalau pengen nambah penghasilan dari hasil panen ini juga bisa. Jual sayur bayam atau pakcoy? Bisa. Tapi mungkin kalah sama tukang sayur keliling, soalnya mereka juga udah punya langganan. Ini sebaiknya dijual dalam bentuk olahan, misalnya punya kafe, bisa jadi sayur yang enak dan segar. Atau kalau ingin tahan lama, bisa juga membuat nilai ekonomis lain dari sayur ini, seperti membuat Keripik Bayam

img_20161208_1153381

Keripik Bayam Ala Nissa 🙂

Resepnya? Di postingan lainnya, yah? Hihi. Nah, sudah tahu kan kenapa saya memilih judul postingan saya itu? Jadi, tunggu apalagi? Jangan nambah-nambahin sampah plastik kalau habis beli minuman, apalagi suka curigaan kalau bakal dipalsukan (walaupun ini memang kejadian). Tapi, mulailah hidup sehat dari rumah. Banyak manfaatnya dan menyenangkan, bukan? Jangan jawab bukan. Haha.

 

Pelajaran Berharga dari Hacksaw Ridge

Selamat pagi, selamat hari Senin. Ini bukan teaser ataupun spoiler. Hanya sebongkah kata yang sayang disimpan sendiri. Kisah nyata dari Perang Dunia ke-II. 

Awalnya saya dan suami tidak ada niat sedikitpun untuk nonton ke bioskop kemarin, apalagi sudah hari Minggu dan semua jadwal film hanya tersisa jam 9 malam ke atas. Tapi karena kami memang suka nonton, suami bilang “Hacksaw Rigde bagus, nonton yuk”. Dan kami bela-belain nonton dengan pilihan bioskop terdekat dengan jam tayang malam tercepat (dibanding lainnya) yakni pukul 21.15. Dan satu lagi (bukan promosi) ternyata di Bekasi Square XXI (sekarang namanya Revo) tiketnya super murah, Senin-Kamis 20.000 IDR, Jum’at 25.000 IDR, dan Sabtu/Minggu/Libur 30.000 IDR. Mungkin karena mallnya sepi, recommended buat yang tidak terlalu suka keramaian. 

Okay, back to the story. Hacksaw Rigde ini merupakan penggalan sejarah dari Perang Dunia II dilihat dari kacamata Amerika Serikat. Dalam film ini, tentara Amerika harus berperang menghadapi tentara Jepang (untuk lebih jelas silakan baca kembali sejarah). Pemeran utamanya bernama Dosmund Doss. Doss adalah seorang anak prajurit perang yang ayahnya masih selamat dari medan perang, tapi semua temannya tewas. Peristiwa perang terlihat memberi dampak psikologis pada ayahnya sehingga sering berbuat kasar pada ibunya. Doss sangat benci dengan sikap ayahnya, bahkan dalam satu adegan Doss mengatakan ingin sekali membunuh ayahnya. Namun, dia tidak melakukannya, tapi menganggap sudah membunuh ayahnya dalam hatinya.

Suatu hari, Doss bertemu dengan seorang perawat dan Doss jatuh hati padanya. Dia sangat ingin menikahi perawat tersebut, namanya Dorothy. Dorothy mengajarkan Doss banyak hal termasuk meminjamkannya beberapa buku medis untuk dia pelajari. Sampai pada suatu ketika Doss memutuskan untuk mendaftarkan diri menjadi tenaga medis di medan perang. Sebelumnya, saudara laki-laki Doss satu-satunya juga sudah mendaftarkan diri yang membuat semua keluarganya terpukul karena mereka tidak ingin ada kehilangan orang yang mereka sayang lagi. 

Well, akhirnya Doss mendaftarkan diri. Tapi dengan kegigihan dan kepercayaannya kepada Tuhannya, dia berjanji tidak akan menyentuh senjata sama sekali. Semua prajurit lain membullynya terus-terusan. Bahkan Sersan, Komandan perang lainnya menanyakan berkali-kali dan memerintahkan dia agar mau berlatih menggunakan senjata. Dia tetap menolak. Satu hal, Doss selalu membawa Kitab Injilnya yang diberikan oleh sang istri (sebelum dia berangkat menjadi medis masih calon istri) untuk selalu dibaca. Doss yakin, jika prajurit membela negaranya dengan mengorbankan nyawa mereka, Doss membela negara dengan menyelamatkan nyawa siapapun yang terluka di medan perang.

Long story, sampai akhirnya Doss pun diizinkan untuk berangkat ke medan perang tanpa senjata dan hanya berbekal obat-obatan. Begitu banyak serangan yang diterima tentara Amerika hingga banyak dari mereka yang tewas. Hingga malam tiba, pimpinan mereka menyuruh semua prajurit untuk mundur. Dan hanya sedikit yang selamat. Doss tidak ikut kembali dengan mereka, Doss yakin masih ada diantara mayat yang tergeletak di tanah itu masih hidup. Dia memeriksa semua detak jantung dan menemukan beberapa prajurit yang masih hidup. Dengan bantuan Doss, beberapa orang prajurit berhasil terselamatkan dan Doss menurunkan semua prajurit yang selamat dengan tambang yang mereka gunakan untuk memanjat dinding perbatasan untuk melawan tentara Jepang. Bahkan Doss juga sempat menolong dua orang tentara Jepang. Setelah memastikan tidak ada lagi yang bernyawa, Doss pun ikut turun.

Beberapa hari kemudian, Doss diminta kembali ikut ke medan perang. Semua prajurit merasa lebih percaya diri jika ada Doss bersama mereka. Dan benar, Doss menyelamatkan banyak nyawa, prajurit pun dengan gagah berani menghadang tentara Jepang. Jepang kalah dan Hacksaw bisa kembali diambil alih oleh tentara Amerika.

Doss selamat walaupun sempat terluka. Tentara Jepang menyerah dan pimpinan mereka (seperti yang kita tahu harga diri orang sangat tinggi) menikam perutnya sendiri (bunuh diri – harakiri). 

Doss, adalah salah seorang saksi hidup Perang Dunia II. Doss meninggal pada tahun 2003. Jumlah tentara yang dia selamatkan adalah 75 orang. Silakan tonton sendiri aksi penyelamatannya dan kisah menegangkan selama peperangan terjadi. 

See, di sini, seperti yang kita tahu di negeri kita juga, dan di belahan bumi manapun, masih ada yang bertahan untuk tidak mengangkat senjata untuk menyelesaikan masalah. Semua agama mengajarkan hal yang baik dan menghargai nyawa orang lain. Walaupun di sisi lain jika tak ada peperangan tidak akan ada titik temu jawaban. Tapi saya sebagai manusia berharap, dengan tanpa melihat apapun keyakinan kita, Tuhan itu Maha Baik. Oleh sebab itu, Dia menciptakan salah satu makhluknya yang baik untuk menjadi pelajaran bagi kita semua. Doss. 

 

Experience of Being Simultaneous Interpreter 

Mulai dari mana, yak? Begini. Menjadi penerjemah bukan hal yang mudah. Menjadi penerjemah bukan berarti menerjemahkan arti kata per kata dan dianggap hafal semua kata yang ada di kamus “seratus juta kosakata Inggris-Indonesia”. Penerjemah itu mampu menyambungkan komunikasi dua pihak yang tidak saling memahami bahasa satu dan lainnya. Termasuk bahasa kalbu. (harap abaikan yang terakhir)

Pada perannya, penerjemah harus mampu membuat satu pihak paham dengan maksud pihak lainnya terkait dalam hal apa saja yang ingin mereka sampaikan. Penyampaian tersebut bisa lewat tulisan dan juga bisa lisan. Lewat tulisan kita bisa lihat banyaknya buku yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa dari bahasa aslinya sendiri. Ini sangat bermanfaat agar si penulis buku bisa berkomunikasi dan menyampaikan ide serta gagasan mereka kepada si pembaca walaupun mereka memiliki latar belakang bahasa yang berbeda. Begitu juga sebaliknya dengan pembaca. Bukan berarti jika mereka tidak paham dengan suatu bahasa, maka mereka tidak bisa membaca karya penulis yang memiliki bahasa berbeda. Begitulah peran penerjemah.

Sedangkan, untuk penerjemah lisan atau yang biasa disebut dengan Juru Bahasa atau Interpreter, peran mereka lebih kepada hal yang terjadi right on the spot. Maksudnya mereka tidak diberikan waktu yang lama seperti menerjemahkan dokumen, buku atau hal tertulis lainnya. Mereka diminta untuk segera memberitahukan pihak yang membutuhkan informasi yang diberikan pihak lainnya. Untuk Interpreter atau Juru Bahasa ini sendiri terdiri dari dua jenis, yang pertama namanya Consecutive Interpreter (CI) dan Simultaneous Interpreter (SI). Consecutive Interpreter ini adalah penerjemah lisan yang paling umum kita temukan di mana saja, seperti di ruang rapat, sidang,  lokakarya, seminar, dan jenis majelis lainnya. CI ini tugasnya adalah menerjemahkan secara lisan setelah si penutur berhenti menyampaikan maksudnya atau setelah berhenti berbicara, barulah kemudian CI bertugas menerjemahkan apa saja yang telah disampaikan tadi. Bagi saya, CI ini sudah saya jalani sejak tahun 2009. Awalnya takut sekali. Takut salah, takut lupa, serta lainnya. Dan iya benar sekali terjadi. Saya sering salah dan sering lupa. Tapi, itulah yang membuat keinginan belajar dan latihan semakin tinggi. Hingga akhirnya terbiasa dengan profesi ini hingga sekarang.

Kemudian, yang kedua itu adalah Simultaneuous Interpreter alias Juru Bahasa Simultan (SI). Profesi ini bagi saya adalah profesi tersulit yang pernah saya bayangkan. Pernah lihat di teve sidang PBB, Konferensi Internasional, rapal multilateral dan lainnya? Nah, di sana pasti ada banyak peserta yang berasal dari negara berbeda serta bahasa yang berbeda pula. Bisa kita lihat mereka menggunakan alat bantu dengar selama jalannya kegiatan tersebut. Apakah yang mereka dengar? Apakah itu mesin? Itu adalah alat komukasi Juru Bahasa Simultan atau SI. Semua yang dibicarakan oleh si penutur atau pembicara pada kegiatan tersebut akan diterjemahkan secara langsung oleh si SI ke dalam bahasa yang telah diminta. Misalkan, di dalam kegiatan tersebut penutur menggunakan bahasa Inggris dan peserta hanya bisa berbahasa Indonesia, jadi mereka akan mendengarkan percakapan langsung diterjemahkan lewat alat yang mereka pakai. Itu jika hanya ada dua bahasa berbeda. Jika ada bahasa lainnya atau banyak bahasa dalam kesempatan tersebut, maka akan banyak para SI yang ditugaskan mengalihbahasakan sesuai dengan keahlian mereka. Serta peserta dipastikan terhubung dengan alat komunikasi atau earphone yang terhubung dengan juru bahasa yang bersangkutan. Bagaimana cara kerja alat tersebut? Alat tersebut memiliki earphone serta pengatur suara, yang terpenting alat itu memiliki sinyal seperti HT. Nah, si Juru Bahasa menggunakan alat yang menggunakan mikrofon tanpa alat bantu dengar jika bisa mendengar suara penutur dengan jelas, atau jika diberikan tempat atau jauh dari penutur, maka akan dipastikan ruangan tersebut diberi akses seperti speaker atau layar supaya bisa mendengar jelas pembicaraan penutur. Tugas SI adalah menerjemahkan tanpa menunggu si penutur untuk berhenti atau penutur menunggu hingga SI selesai mengalihbahasakan, SI akan tetap berbicara selama si penutur berbicara. Ini adalah hal yang sangat sulit jika belum pernah melakukan sama sekali.

 

wp-image-948152874jpg.jpgwp-image-1261725879jpg.jpgimg_20161031_125004.jpg

Alhamdulillah, beberapa waktu lalu saya diberikan kesempatan untuk menjalaninya. Ternyata memang sulit di satu sesi pertama. Saya ditugaskan untuk menjadi Juru Bahasa Simultan pasangan bahasa Inggris – Indonesia untuk lokakarya terkait dengan perubahan iklim dan efek rumah kaca. Materi yang sangat sulit sekali dan ini juga baru pertama kali. Tapi, insya Allah jika dijalani bisa, kan? Ibarat kata pepatah “There is always First for Everything” begitulah kurang lebih. Bagi teman-teman yang juga ingin tapi belum pernah tidak usah khawatir. Ada beberapa tips versi saya sesuai dengan pengalaman dan ilmu saya yang masih belajar ini.

Tips sebelum menjadi Juru Bahasa Simultan versi AJ:

1. Pastikan beberapa hari sebelum bertugas, kita sudah mendapatkan materi jika itu terkait dengan presentasi atau pemaparan bahan yang sangat panjang. Ini sangat membantu kita untuk memahami dan mempermudah dalam proses pengalihbahasaan nantinya

2. Jika sebelum bertugas tidak ada materi yang diberikan, pastikan kita paham apa topik dari pembicaraan dari si penutur nantinya. Pastikan melihat dan mempelajari kata-kata sulit atau istilah atau terminologi yang kita belum paham dan jangan segan bertanya

3. Jika sudah menguasai materi atau topik tapi masih takut, berbicaralah pada penutur itu. Sampaikan bahwa kita ingin pelafalan dan pengucapan mereka jelas, tenang, dan tidak terburu-buru

4. Kalau masih belum mantap rasanya, coba praktikkan dengan teman atau keluarga dengan menggunakan video yang berbahasa Inggris kemudian artikan secara langsung di depan mereka
Insya Allah, dengan begitu setidaknya kita bisa tenang dalam menjalankan tugas. Intinya ketika mengalihbahasakan tersebut harus tenang, konsentrasi dan menikmati arus pembicaraan. Jangan memikirkan hal lainnya apalagi mengantuk selama menerjemahkan. Ini sangat berbahaya karena akan banyak poin yang hilang.

Alhamdulillah tugas saya selama dua hari tersebut bisa berjalan dengan lancar dan semua senang. Semoga saya diberikan kesempatan lagi nantinya. Jangan lupa, tetaplah belajar apalagi meminta nasehat atau berguru kepada yang sudah berpengalaman. Saya baru pertama kali menjalankannya, mudah-mudahan diberi kesempatan lagi dan bisa lebih baik lagi.

Hal yang saya petik dari sini adalah, walaupun kita tidak mampu dan belum pernah melakukan sesuatu, cobalah terlebih dahulu. Jika belum berani berguru dan belajar dulu, tapi jangan sampai tidak jadi mencoba karena kita akan pernah tahu hasilnya dan kita tidak akan pernah mengerti cara untuk memperbaiki diri kita nantinya.

Always give a try in every new challenge and trust your gut ☺☺ – AJ